
“Ada pertanyaan..........?” tanya seorang dosen kepada kami, para mahasiswa, setelah setengah jam berkomat kamit menghibahkan kaya ilmu dengan segala akting menariknya. Beliau adalah dosen yang ahli di bidangnya, tidak lebih dari ilmu beliau yang ada, sedikitpun. Kadang aku kagum dan bangga padanya tapi sekali lagi tidak lebih dari sebuah senyuman.
Senyum penuh makna yang mengisahkan berpuluh rasa yang terucing dalam kalbu, mengusik urat-urat yang menyelingkar, membuatnya beranalogi bahasa tubuh. Beliau tidak marah, tapi aku mengerti beliau sangat kesal. Diamnya yang memaku dan tak satu pun kata terucap, jelaslah itu sebuah tanda tak nyaman bagi seorang yang periang, yang menyengir tersenyum di setiap seluk ulasannya. Aku tersenyum kagum memaknainya.
Dengan gayanya beliau menghampiri meja dan kursi tepat di depan kami, kelompok mahasiswa yang rajin mengikuti mata kuliahnya, tidak lebih dari hanya mengikutkan raga saja, tanpa makna lugas yang teraup. Beliau mengacak kembali buku yang sedari tadi terbuka, sejak awal beliau membuka pertemuannya dengan salam.
Walau aku tak menatap dan meneliti beliau dari dekat, aku tahu beliau meneliti kami yang menjadi pendengar setianya yang seolah penyimak baik. Beliau berharap banyak kata yang terucap dari mulut kami, tanya demi tanya dan tanggapan yang menyeruak dari rongga dada kami demi aktifnya kelas. Tapi, sungguh dan sungguh ajaib, kelas yang tadi berisik, banyak cin cong tak bermanfaat. Kini menjadi sunyi, walau masih ada sedikit saja bisikan nyamuk nakal yang tak penting itu.
Entah apa yang kini akan terselubung dalam pikir dosen ahli senyum itu, beliau belum menampakkan tingkahnya yang menganalitik. Beliau masih sibuk mengusap kertas demi kertas yang terjejer rapi dalam sampul bukunya. Mencari sesuatu yang mungkin beliau belum pelajari semalam untuk mengajari mahasiswa ajaib ini.
Yah, dia kini hanya tersenyum tapi belum menatap kami. Lalu meletakkan bukunya yang membelah dengan pulpen pelan diatas meja. Dengan gayanya yang menarik lagi, beliau melepaskan kaca mata dari gelanggang daun telinganya, dan kemudian mengusap matanya pelan. Dan dengan cirri khasnya, beliau tersenyum dengan mata yang sedikit menyipit. Tapi senyum itu tidak ku suka sama sekali, mungkin juga semua mahasiswa di kelas ini. Karena senyum itu, senyum ejekan bagi kami mahasiswa dungu atau senyum seorang moralitas yang lupa dengan ilmu akhlaknya. Bersambung .......................
Percaya gak kamu, kalo emang ada sarjana rasanya SMA. Gak total seperti mahasiswa yang dianggap mandiri, sigap, tanggap, and lainnya. Malah ia seperti anak SMA yang masih merengek-rengek dengan tugas-tugas yang diberikan guru.
Aaduh...........kasihan juga ya..............!!
Baca kelanjutan kisahnya. NEXT TIME
Minggu, 07 Juni 2009
Sarjana Rasa SMA
Diposting oleh Syakhel di Minggu, Juni 07, 2009 0 komentar
Jumat, 05 Juni 2009
Yang Tak Pantas

Tak pantaskah aku yang sendiri berarti bagi sekelumit ranah yang tak pernah ku kenal. Bodohkah diri jika tak paham keadaan ini??????????
Aduh......tak berartikah hamba ini??? dan berartikah aku????????????
kamu..........?????
Diposting oleh Syakhel di Jumat, Juni 05, 2009 0 komentar
Rabu, 03 Juni 2009
Tangisku tuk Muhammad

Aku yang bersimpuh bersujud menangis padamu. Malam ini ku pasrahkan diri ini mengabdi di sisimu, menatap meratapi semua keadaan yang ada. Wahai tuhan yang menguasai tubuh yang lemah ini. Malam ini ingin hati ini mencurahkan segala keberatan yang kau tambatkan pada diri ini. Keinginan tuk selalu menjadi orang yang sempurna di jalanmu selamanya aku dambakan. Diri yang hina ini ingin menjadi diri Muhammad yang engkau dan malaikatmu selalu memujanya di setiap waktu. Sungguh benar diri ni tak sadar akan dirinya, tapi yang miskin ini tak kan pernah bosan dan tak kan pernah henti tuk mengemis rahmat padamu walau sampai air mata tak lagi menetes.
Wahai tuhan yang mendengar tangis jerit kesengsaraan ini. Ia Muhammad benar seorang figur diri ini yang membuat keambisian diri ini semakin sangat tuk selalu menjadi orang yang kau kagumi selalu. Dunia baginya permata yang indah yang tak kan pudar oleh debu yang menempel. Kelezatan, kemikmatan, keindahan, ketenangan, ketentraman semua itu ia rasakan. Seakan dunia ini adalah surga pertama sebelum surga yang sebenarnya di akhirat. Indah sifatnya membuat semua mahluk tuhan tertegun melihatnya, kagum dan terpesona padan ya. Wahai dzat yang menguasai diri yang indah itu. Lantunan kicauan burung yang menggema di pagi hari itu seakan bershalawat padan ya, gunung-gunung ingin menjadi pelindung baginya dari kejahatan para perusak. Begitu juga dengan langit ia ingin menjadi selimut yang kan menyelimutinya siang dan malam hari. Kerikil pun rela menjadi mas dan permata untuknya. Dan para sahabat yang rela mati demi melindunginya dan ingin selalu membuatnya nyaman. Semua mahluk tuhan yang ada di langit dan di bumi semua ingin selalu sibuk mengurusi kehidupannya, mereka ingin menjadi khadim baginya yang selalu bersamanya di tiap waktu.
Wahai dzat yang maha mengetahui apa yang akan terjadi.
Atas kuasamu hamba ini terlahir ke atas bumi, atas rahmat serta anugerah nikmat yang kau cukupi sampai sekarang ini aku tumbuh menjadi seorang yang dewasa. Atas akal pikiran yang kau anugerahkan padaku sehingga aku dapat berfikir. Atas kemurahanmu kau anugerahkan padaku tuk melihat. Tangan kaki yang kau anugerahkan padaku untuk aku gunakan dalam berbuat. Dan semua anggota yang kau anugerahkan dengan sempurna dan dengan manfaat tertentu. Apakah pantas yang dhalim ini dan lagi tidak bersyukur ingin menjadi seorang yang kau kasihani layaknya kau mengasihi diri Muhammad?.
Aku berlindung kepada tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia . Ya Allah ya tuhan ku tempat aku bersimpuh berlindung dari nafsu yang tak pernah reda. Jangan kau jadikan anugerah yang kau berikan ini sesuatu yang membuat diri ini sesat dan lupa pada jalan ridhamu. Jangan kau jadikan akal pikiran yang kau anugerahkan ini seperti akal Hamman dan jauhkan dari pikiran yang menyesatkan diri pribadi dan orang lain hingga diri ini selalu maksiat padamu. Jangan jadikan hati ini penuh dengan riya’, ujub, takabbur, dan ketidak ikhlasan dalam beribadah padamu. Jadikan hati ini hati Muhammad yang bersih yang jauh dari penyakit hati, yang selalu ikhlas dalam beribadah, hati yang bisa berempati dan bersimpati pada orang lain yang sengsara dan tuntunlah hati ini pada jalan yang kau ridhai.
Ya Allah kau maha mengetahui apa saja yang akan aku perbuat esok begitu juga dengan hasilnya. Kau ciptakan dua mata hamba ini untuk aku gunakan melihat, melihat keindahan alam yang kau ciptakan. Jangan jadikan mata ini sumber riya’, ujub dan semua kemaksiatan lainnya. Pandan gan yang kedua itu jangan kau sempatkan pada mata ini. Dan lindungilah dari nafsu mata yang ingin selalu melihat kemaksiatan. Kedua tangan yang multifungsi ini, jadikan ia selalu ingin menabur kebaikan yang selalu ingin membantu orang lain yang sengsara lagi susah dan menjaga keutuhan maupun kemaslahatan bumi. Jangan kau jadikan tangan ini perusak bagi bumimu yang indah nan permai sehingga membuat semuanya rusak tak terkendali. Dan lindungilah kaki ini dari kaki yang selalu ingin melangkah pada jalan yang kau murkai, dan membuat diri ini rugi dalam menghabiskan masa hidupnya di dunia.
Ya rahman ya rahim dzat yang selalu mengkhabarkan kebahagian bagi orang yang beriman. Wahai tuhan yang menciptakan kaya dan miskin, senang dan sedih, bagus dan jelek dan semacamnya. Kau ciptakan negeri tercintaku ini dengan kekayaan alam yang melimpah dengan tanah yang subur dan dengan laut yang membentang luas . Keindahan alam yang kau juga ciptakan dengan mempesona. Wahai dzat yang maha indah, kau percikkan kenikmatan surgamu itu pada negeri ini. Sungguh atas kuasamu semua itu terjadi. Banyak negeri lain yang ingin menikmati dan memilikinya, korban nyawapun mereka tak perhitungkan. Akhirnya atas kuasamu semua itu berakhir dengan sebilah senjata yang tidak lain bambu yang meruncing . Tapi entah kenapa setelah semuanya berakhir dan Indonesia tercinta ini menjadi Negara yang merdeka, sampai saat sekarang ini negeri ini masih terbelenggu dengan kemiskinan dan keterpurukan.
Diposting oleh Syakhel di Rabu, Juni 03, 2009 0 komentar
Selasa, 02 Juni 2009
Musim gugur

Jiwaku seolah terkubur dalam kata-katanya
Kata yang indah yang menusuk kalbu cendi suciku
Raut pesona mungil wajahnya mencengkram urat-urat pikirku
Otakku pun penuh akan bayang gambar cantiknya
Mataku terperanjat untuk selalu melihatnya
Melihat cinta itu tumbuh di musim gugur.
Diposting oleh Syakhel di Selasa, Juni 02, 2009 0 komentar
Minggu, 31 Mei 2009
Tangis Wajah Embun

by. Ahmad Fauzi
Seumpama pelangi itu terbang, menghiasi tabur tatapku memandang, mungkin engkau sepertinya. Sayang, pelangi itu tak bisa terbang, ia membujur kaku di pijakannya. Tapi ia adalah ia, ia yang mewarnai hidup dengan siluit keindahannya yang menawan. Yah, engkau masih sepertinya. Engkau yang indah, mengindahkan segala serpihan tatapku memandang.
Kau bahagia, kau tertawa, kau menangis dan kau sedih, aku hanya bisa menatapmu tanpa sesuatu yang bisa ku lukiskan untukmu, untuk kau perhatikan dariku. Seandainya adalah kata yang tak mungkin ku ucap lagi menerawang keindahanmu. Cabikan kata itu terlalu banyak membekas di eluh aura hati yang membesing curahan kasih dari cinta.
Diposting oleh Syakhel di Minggu, Mei 31, 2009 0 komentar
Sembrononya Aku

Saat-saat indah, bahagia, resah, gundah, sedih pasti ada pada hidup manusia. Hanya orang bertakwalah yang wajar menghadapinya. Tangis bukan berarti sedih, juga bukan berarti senang ataupun bahagia tapi karena kodrat insan diciptakan hati.
Setiap orang tidak ingin dirinya merasa bimbang, sedih, salah, resah dan menjadi yang terpuruk. Semuanya mendambakan kenyamanan dan ketenangan hati, sesegar buah apel yang terpetik dari tangkainya.
Salah, tapi manusia salah. Ia melangkah sama sekali tidak pada kenyamanan hati yang diharap. Ia resah dan ia pun terpuruk pada jengkal langkah yang dipijak. Sebegitu sembronokah ia?????????
Uci
Diposting oleh Syakhel di Minggu, Mei 31, 2009 0 komentar
Jumat, 29 Mei 2009
Cintanya, cinta sim salabim abra kadabra

Tanpa ku sadari, tanpa ku janji dan tanpa ku harap. Dia mendatangiku dengan naung indah cintanya, cinta ajaib yang muncul tanpa sangka.
Saat itu, saat awal benih cinta tumbuh. aku mengajaknya jalan setelah seminggu sebelumnya aku mengenal identitasnya. Aku mengajaknya pergi ke sebuah pantai, wisata terdekat daerahku. Aku berharap ia suka dengan tempat pilihanku itu, dan Ternyata ia begitu menikmati romantisisme hawa sejuk pantai itu. Aku tidak tahu, apakah ia suka pantai atau karena ada aku yang menemaninya?
Sepulangnya dari tempat itu, aku mengajaknya menikmati suasana lesehan. Tempat itu sederhana tapi mengagumkan. Disitu aku banyak bertanya padanya, dimana rumahnya (saat itu ia ngekos), apa kesukaannya, apa ia suka jalan dan banyak kalimat Tanya lainnya yang ku lontarkan. Ia menjawab pertanyaanku semua tanpa satupun sisa. Ia tertawa dengan lesung pipitnya dengan tanyaku yang bertubi-tubi, terkadang tangannya menghempas ke tubuh mengajakku bercanda, aku pun meresponnya. Ia seperti bukan kenalan baruku lagi, ia begitu sangat dekat denganku.
Dua hari setelah pertemuan itu, siang 14.07 WIB. Ia meninggalkan sebuah pesan singkat saat aku istirahat dan baru ku baca jam tigaan lebih. Pesan itu mengagetkanku, hingga mataku membinar meneliti kata-kata pesan itu. Sungguh tak ku sangka, tanpa janji, ia mengajakku pergi ke sebuah wisata di perbukitan saat itu pula. Aku pernah curhat padanya tentang bukit itu, bahwa aku sama sekali tidak pernah kesana walau banyak orang terdekatku pernah menikmati suasananya. Dan ia bilang, kalau ia pernah juga menikmati suasana itu.
Mungkin ia ingin memberikanku kejutan, dengan mengajakku ke tempat yang belum pernah sama sekali ku singgahi. Perbukitan itu. Tanpa ku pikir, aku membalas pesannya dan sanggup untuk pergi. Jam empat lebih, aku tiba di tempat kostnya. Ia sedikit antusias mengajakku pergi walau perbukitan itu sedikit jauh, sekitar setengah jam lebih menghabiskan waktu untuk kesana.
Jam lima kurang seperempat, aku sudah tiba di atas bukit. Sungguh menakjubkan, aku terpana menikmati keindahannya, ditambah lesung pipitnya yang selalu memperhatikanku. Aaaduh……. Rasa apa yang ada dihati ini…??
Kini, ia berdiri persis di depanku. Awalnya aku tak mampu, tapi dengan kegemasannya aku kuasa memeluknya. Ia bilang, ia tidak pernah sama sekali menikmati keindahan dalam nyaman dan tenang seperti ini. Dan ia pun curhat tentang cinta itu, dengan cinta yang tidak pernah ku harap sama sekali. Karena ia sebenarnya, teman dari seseorang yang aku kagumi, dan aku ingin mengenal dan meminangnya.
Diposting oleh Syakhel di Jumat, Mei 29, 2009 0 komentar
